Sorotan Utama: Mengenang Drama Real Madrid vs Celta Vigo Copa del Rey 2017: Ketika Krisis Menjadi Kenyataan

Dipublikasikan pada: 2025-01-01 · Oleh Redaksi

Mengenang Drama Real Madrid vs Celta Vigo Copa del Rey 2017: Ketika Krisis Menjadi Kenyataan

Sebagai penggemar sepak bola, ada kalanya kita menyaksikan pertandingan di mana ekspektasi besar langsung dihantam oleh kenyataan pahit. Bagi fans Real Madrid, salah satu momen paling menohok di musim luar biasa 2016/2017—musim di mana mereka memenangkan La Liga dan Liga Champions—justru terjadi di ajang Copa del Rey.

Kita bicara tentang babak perempat final yang mempertemukan Real Madrid di bawah asuhan Zinedine Zidane melawan kuda hitam yang sangat merepotkan, Celta Vigo, yang dilatih oleh Eduardo Berizzo. Duel dua leg ini bukan sekadar pertandingan; ini adalah peringatan bahwa dominasi sekecil apa pun bisa runtuh dalam sekejap.

Saya masih ingat malam itu, duduk di depan layar, penuh percaya diri bahwa Madrid akan melewati rintangan ini dengan mudah. Tim ini baru saja memecahkan rekor tak terkalahkan terpanjang dalam sejarah klub. Namun, Celta Vigo 2017 bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Mereka bermain dengan hati, dan mereka datang ke Santiago Bernabéu bukan untuk berwisata, melainkan untuk memberikan kejutan besar.

Kejutan itu benar-benar terjadi. Momen ini menjadi titik balik singkat di musim Real Madrid, sebuah pengingat bahwa jalan menuju treble yang saat itu sempat dibicarakan, ternyata penuh ranjau darat.

Leg Pertama di Bernabéu: Ketika Kejutan Itu Terjadi di Kandang Sendiri

Leg pertama pertandingan perempat final Real Madrid vs Celta Vigo Copa del Rey 2017 digelar pada 18 Januari 2017 di Santiago Bernabéu. Atmosfernya dingin, tetapi tekanan untuk menang sangat panas. Setelah rekor tak terkalahkan 40 pertandingan dipecahkan beberapa waktu sebelumnya oleh Sevilla di La Liga, Madrid perlu kembali ke jalur kemenangan meyakinkan.

Namun, Celta Vigo memiliki rencana berbeda. Mereka sangat terorganisir di lini belakang dan mematikan dalam serangan balik. Lini tengah Madrid yang saat itu sedikit pincang akibat rotasi dan cedera, kesulitan mengontrol tempo.

Babak pertama berakhir 0-0, meskipun Madrid mendominasi penguasaan bola. Masalahnya muncul di babak kedua ketika Celta Vigo mulai memanfaatkan celah yang ditinggalkan bek sayap Madrid yang terlalu maju.

Pada menit ke-64, gol pertama tercipta. Theo Bongonda memberikan umpan silang yang diselesaikan dengan klinis oleh Iago Aspas, sang mesin gol Celta Vigo. Bernabéu terdiam. Aspas adalah LSI keyword yang wajib disebut, karena ia adalah motor serangan Celta di musim itu, selalu menjadi mimpi buruk bagi tim besar.

Reaksi Singkat dan Pukulan Keras Kedua

Real Madrid merespons dengan cepat. Hanya lima menit berselang, Marcelo melepaskan tendangan voli kaki kiri yang fantastis dari luar kotak penalti. Bola meluncur deras menembus jala kiper Sergio Álvarez. Skor 1-1, dan seolah-olah momentum sudah kembali ke pihak Madrid.

Sayangnya, kegembiraan itu hanya bertahan dua menit. Ya, hanya dua menit! Celta Vigo sekali lagi menunjukkan kekejaman mereka. Jonny Castro, bek kiri Celta, menerima umpan terobosan dan dengan tenang menaklukkan Kiko Casilla. Skor berubah menjadi 1-2. Sebuah kekalahan kandang yang sangat menyakitkan, dan lebih buruk lagi, Celta membawa pulang dua gol tandang yang sangat berharga.

Hasil 1-2 di Bernabéu adalah pukulan telak. Untuk lolos, Madrid harus menang minimal 2-0 di kandang Celta Vigo, Balaídos. Ini adalah tugas yang sangat berat, mengingat bagaimana solidnya pertahanan Celta dan ganasnya serangan balik mereka.

Analisis Taktik Zidane dan Krisis Gelandang Jelang Leg Kedua

Kekalahan di leg pertama memaksa Zinedine Zidane merenung keras. Musim itu Madrid memang memiliki kedalaman skuad yang luar biasa, tetapi menjelang akhir Januari, mereka menghadapi krisis cedera kecil namun krusial, terutama di lini tengah dan belakang.

Beberapa pemain kunci, seperti Luka Modrić dan James Rodríguez, saat itu sedang tidak dalam kondisi terbaik, atau baru kembali dari cedera. Hal ini membuat Zidane kesulitan menemukan keseimbangan antara Casemiro sebagai jangkar dan kreativitas dari lini kedua. Rotasi yang biasanya efektif, kali ini terasa canggung melawan sistem 4-2-3-1 Celta Vigo yang sangat disiplin.

Berikut adalah beberapa faktor kunci kegagalan taktis Madrid di leg pertama:

Menjelang leg kedua di Balaídos, fokus utama Zidane adalah memecahkan masalah keseimbangan ini. Ia tahu timnya harus bermain sangat menyerang, tetapi tanpa mengorbankan stabilitas pertahanan. Ini adalah situasi "all or nothing" di mana kesalahan sedikit saja bisa mengakhiri impian Copa del Rey mereka.

Leg Kedua di Balaídos: Pertarungan Hidup Mati yang Dramatis

Leg kedua Real Madrid vs Celta Vigo Copa del Rey 2017 digelar pada 25 Januari 2017 di Estádio de Balaídos, Vigo. Kondisi lapangan sedikit berat dan atmosfernya jauh lebih intimidatif bagi tim tamu.

Madrid datang dengan skuad yang lebih serius. Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Marco Asensio (saat itu masih muda dan bersemangat) memimpin serangan. Real Madrid tahu mereka harus mencetak dua gol tanpa balas. Mereka langsung menggeber serangan sejak peluit awal dibunyikan.

Peluang demi peluang tercipta, namun kiper Sergio Álvarez tampil heroik. Tiang gawang juga sempat menyelamatkan Celta. Frustrasi mulai terasa di kubu Madrid. Semakin lama skor bertahan 0-0, semakin berat tugas yang diemban Madrid.

Momen Tragis Sebelum Jeda

Mimpi buruk itu datang tepat sebelum babak pertama berakhir. Pada menit ke-44, John Guidetti melepaskan tembakan keras yang membentur tiang. Bola liar kemudian memantul mengenai Danilo—yang saat itu sedang dalam masa sulit di Madrid—dan masuk ke gawang sendiri. Gol bunuh diri (Own Goal/OG) yang sangat tragis. Skor 1-0 untuk Celta (Agregat 3-1).

Gol ini seolah menghancurkan mental Madrid. Mereka kini harus mencetak tiga gol tandang hanya untuk menyamakan kedudukan dan memaksa perpanjangan waktu. Itu adalah misi yang hampir mustahil.

Meskipun demikian, Madrid tidak menyerah. Di babak kedua, Cristiano Ronaldo menunjukkan semangatnya. Pada menit ke-62, ia melepaskan tendangan bebas roket yang menembus jala Celta Vigo. Skor 1-1 (Agregat 3-2). Harapan kembali menyala.

Namun, Celta Vigo segera memadamkan harapan itu. Hanya delapan menit kemudian, Daniel Wass mencetak gol indah dari luar kotak penalti, memanfaatkan kelelahan lini tengah Madrid. Skor 2-1 untuk Celta (Agregat 4-2).

Pada menit ke-87, Lucas Vázquez, yang masuk sebagai pemain pengganti, mencetak gol penyeimbang untuk Madrid (2-2), tetapi itu sudah terlambat. Waktu hampir habis. Pertandingan berakhir dengan skor 2-2 di Balaídos, dan Celta Vigo lolos ke semifinal dengan agregat 4-3.

Dampak Hasil dan Pelajaran dari Kekalahan Copa

Kekalahan ini, meskipun menyakitkan, memberikan pelajaran berharga bagi Zinedine Zidane dan Real Madrid. Tersingkirnya mereka dari Copa del Rey pada Januari 2017 ternyata menjadi berkah terselubung. Mengapa?

Dengan fokus yang hanya tersisa pada La Liga dan Liga Champions, Madrid dapat mengelola energi skuad mereka dengan lebih baik. Mereka tidak perlu memecah konsentrasi untuk turnamen domestik yang melelahkan. Ini memungkinkan Zidane untuk:

Hasilnya? Di akhir musim, Real Madrid mengamankan gelar La Liga setelah lima tahun absen dan menjadi tim pertama di era modern yang berhasil mempertahankan gelar Liga Champions secara berturut-turut. Kegagalan di Copa del Rey menjadi pengorbanan yang dibayar mahal, namun hasil akhirnya sangat manis.

Bagaimana dengan Celta Vigo?

Bagi Celta Vigo, kemenangan agregat atas raksasa seperti Real Madrid adalah pencapaian luar biasa. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka di semifinal melawan Alavés. Sayangnya, perjalanan dongeng mereka berakhir di tangan Alavés dengan skor agregat 1-0.

Namun, penampilan mereka melawan Madrid tetap dikenang. Mereka menunjukkan bahwa dengan taktik yang cerdas, keberanian, dan performa individu luar biasa dari pemain seperti Iago Aspas, tim mana pun bisa dikalahkan, bahkan sang Los Blancos di masa jayanya.

Real Madrid vs Celta Vigo Copa del Rey 2017 adalah babak perempat final yang tidak akan pernah dilupakan. Ia mengajarkan kita bahwa di dunia sepak bola, tidak ada hasil yang dijamin, dan bahwa kadang-kadang, sebuah kemunduran kecil justru dapat memicu keberhasilan yang jauh lebih besar.

Iklan